kopitozie'S BOOKS
LAST UPDATED BOOKS

 

LIVING IN JOGJA


s-i-n-o-p-s-i-s
Kucoba mengenang lagi kehangatan rahim ibuku, sebuah dunia yang tentram dimana aku hidup damai dengan masyarakat kecilku, kakang kawah yang bersemayam dalam air ketuban dan adi ari-ari yang bersemayam pada tembuni pun merengkuhku sepanjang waktu. Kami hidup sejiwa tak ada pertentangan dan terbebas dari ancaman.
Hingga datanglah kelahiran itu bersama-sama kami meninggalkan rahim ibu, tangis pertamaku memang telah lama kulupa, namun kengerian yang mendadak menyergap saat aku lahir ke 'dunia entah' dunia nyata yang tak ramah.

Aku menangis ketika untuk pertama kalinya kulitku terasa perih diguris beringas udara yang begitu saja berjumpalitan keluar masuk lubang hidung dan relung paru-paruku.
Aku menangis ketika untuk pertama kalinya kupingku digasak suara-suara gemuruh yang datang dari luar tubuh.
Aku menangis ketika untuk pertama kalinya mataku menyaksikan benda-benda ganjil yang tidak aku kenal sebelumnya.
Aku menangis ketika untuk pertamakalinya kusadari diriku dikepung bahaya.
Aku menangis lantaran terpisah dari Ibuku, tercerai dari saudara-saudara serahimku.

Kelahiran dengan demikian mungkin menyisakan trauma bagiku, mungkin juga bagi semua manusia.
Oktober puluhan tahun yang lalu ...
Jasadku terlahir di Garut ...
Tapi jiwaku ada yang membawa dan mengajak melayang-layang ke angkasa dan menukik ke satu tempat asing yang akhirnya kutahu bernama 'Jogja'

Sampai detik ini jasadku belum pernah menginjakkan kaki di bumi Jogja tapi sejak aku keluar dari Rahim Ibuku ...
Hati Nurani dan Jiwaku hidup dan tinggal disana ...
Jogja Rumah Ar-Rahimku ... Garut Rumah Ar-Rahman ku
Jasadku disini tetapi jiwaku tertinggal disana !!!
Jasadku saat ini ada di dunia asing, 'semesta dilema' disini aku membutuhkan kehadiran orang lain demi rasa aman sekaligus mencurigainya sebagai ancaman.

Aku selalu menolak untuk mengirimkan jasadku ke Jogja ... cukuplah jiwaku yang pergi kesana
Sehinga Jiwa Tozie bisa membayangkan saat-saat jogja adalah rumah ar-rahimku dengan kedamaian masyarakat kecilku yang tidak mungkin ada di dunia sandiwara saat ini.
Kenangan rahim menyebabkan setiap manusia ingin menemukan kembali masyarakat kecilnya yang saling menjaga. Biarlah hanya 'Kakang Kawah dan Adi Ari-ari' yang pergi lebih dulu untuk menjadikan Jogja Rumah Ar-Rahimnya ...

'Peradaban Manusia mula-mula digerakan oleh naluri dan kemudian diarahkan oleh pikiran'
Seandainya boleh berumpama jasad dan masyarakat kecilku ingin keluar di Jogja dari rahim Ibu yang sama

Manusia tidak akan pernah Mati !
Kematian adalah jalan menuju kehidupan Akhirat
Kelahiranlah yang Tozie anggap Kematian